MENGAKOMODASI PRIBADI INTROVERT DAN EKSTROVERT
DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
DENGAN PAR(PEMBELAJARANAKTIF- REFLEKTIF)
APLIKASI PARTINEMKU
0leh : Partinem, B-2
- A. Pendahuluan
Learning being a journey, not destination (Bilveer Singh,2004). Filosofi ini memberi kesadaran kepada kita bahwa pembelajaran adalah sebuah proses dan bukan sekadar tujuan. Sebagai sebuah proses maka pembelajaran akan dilakukan secara terus-menerus dan tidak akan pernah berhenti sepanjang kita masih hidup ( life- long learning).
Fenomena yang kita hadapi akhir-akhir ini, terutama bagi sekolah-sekolah yang demikian mendewakan UN sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan adalah semakin terkebirinya otoritas guru untuk membelajarkan kompetensi yang harus dikuasai siswa pada semester genap khususnya bagi siswa kelas IX SMP dan kelas XII SMA. Semua perhatian tercurah demi sukses UN. Padahal keberhasilan pendidikan tidak semata-mata bernilai tinggi dalam UN.
Pembelajaran akan lebih bermakna manakala siswa mengalami sendiri, mengontruksi sendiri pengalamannya itu. Ini semua dapat kita capai dengan pembelajaran Aktif-Reflektif. Pada dasarnya pembelajaran ini banyak melibatkan pebelajar melakukan sesuatu dan berpikir tentang apa yang mereka lakukan. Mereka ditantang untuk menggunakan mentalnya saat melakukan pembelajaran. Pembelajaran aktif mendasarkan pada asumsi bahwa pembelajaran pada dasarnya adalah pencarian secara aktif pengetahuan dan setiap orang belajar dengan cara yang berbeda-beda. Kita pasti sepakat bahwa setiap anak didik bersifat unik. Mereka memiliki karakter/ tipe kepribadian dan kekhasan dalam proses pembelajaran.
Di sinilah pentingnya refleksi baik dari pihak guru selaku pembelajar dan anak didik selaku pebelajar. Dalam refleksi pembelajar memberi kesempatan kepada pebelajar melakukan analisis atas pengalamannya dan juga mendorong pebelajar untuk mandiri dalam belajar. Di samping itu, keunikan individu baik dengan kepribadian introver maupun ekstrover sangat dihargai.
Dalam pendekatan pembelajaran kita telah mengenal istilah PAIKEM yakni pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Pada kesempatan yang baik ini penulis akan memperkenalkan Pembelajaran Aktif, Reflektif, Terencana, Inovatif, Nasionalis, Efektif, Menyenangkan, Kreatif dan Universal (PARTINEM-KU). Teknik pembelajaran yang penulis terapkan dalam kegiatan belajar mengajar bahasa Indonesia di SMA ini, terbukti telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan pada empat keterampilan bahasa yang harus dikuasai siswa SMA. Empat keterampilan yang dimaksud adalah menyimak, membaca, menulis, dan berbicara.
Pada kesempatan kali ini, penulis hanya akan mengambil dua kata kunci dari PARTINEM-KU, yakni AR Aktif-Reflektif yang selanjutnya penulis namakan model PAR(Pembelajaran Aktif-Reflektif). PAR ini penulis harapkan dapat mengakomodasi keunikan siswa dengan berbagai keberagamannya.
- B. Ekstrover versus Introver
Seseorang dapat menjadi ekstrover atau introver, tergantung dengan arah aktivitas mereka. Ekstrover adalah orang yang berpikir mengenai hal-hal secara objektif dan luas, sedangkan Introver lebih berpikir ke arah subjektif atau dirinya sendiri. Perbedaan kedua kepribadian tersebut seperti di bawah ini :
Ekstrover
- Tertarik dengan apa yang terjadi di sekitar mereka
- Terbuka dan seringkali banyak bicara
- Membandingkan pendapat mereka dengan pendapat orang lain
- Seperti aksi dan inisiatif
- Mudah mendapat teman atau beradaptasi dalam grup baru
- Mengatakan apa yang mereka pikirkan
- Tertarik dengan orang-orang baru
- Mudah menolak bersahabat dengan orang-orang yang tidak diinginkannya
Introver
- Tertarik dengan pikiran dan perasaannya sendiri
- Memerlukan teritori mereka sendiri
- Tampil dengan muka pendiam dan tampak penuh pemikiran
- Biasanya tidak mempunyai banyak teman
- Sulit membuat hubungan baru
- Menyukai konsentrasi dan kesunyian
- Tidak suka denga kunjungan yang tidak diharapkan dan tidak suka mengunjungi orang lain
Eysenck dan Wilson (1982) mengklasifikasikan ciri-ciri tingkah laku yang operasional pada tipe kepribadian ekstrovert dan introvert menurut faktor-faktor kepribadian yang mendasarinya, yaitu :
(a) Activity : Pada aspek ini diukur bagaimana subyek dalam melakukan aktivitasnya, apakah energik dan gesit atau sebaliknya lamban dan tidak bergairah. Bagaimana subyek menikmati setiap pekerjaan yang dilakukan, jenis pekerjaan atau aktivitas apa yang disukainya.
(b) Sociability : Aspek sociability mengukur bagaimana individu melakukan kontak sosial. Apakah interaksi sosial individu ditandai dengan banyak teman, suka bergaul, menyukai kegiatan sosial, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, menyukai suasana ramah tamah, atau sebaliknya individu kurang dalam kontak sosial, merasa minder dalam pergaulan, menyukai aktivitas sendiri.
(c) Risk Taking : Aspek ini mengukur apakah individu berani mengambil risiko atas tindakannya dan menyukai tantangan dalam aktivitasnya.
(d) Impulsiveness : Untuk membedakan kecenderungan ekstrovert dan introvert berdasarkan cara individu mengambil tindakan, apakah cenderung impulsif, tanpa berpikir secara matang keuntungan dan kerugiannya atau sebaliknya mengambil keputusan dengan mempertimbangkan konsekuensinya.
(e) Expressiveness : Aspek ini mengukur bagaimana individu mengekspresikan emosinya baik emosional sedih, senang, takut. Apakah cenderung sentimental, penuh perasaan, mudah berubah pendirian dan demonstratif, atau sebaliknya mampu mengontrol pikiran dan emosinya, tenang, dingin..
(f) Responbility : Aspek ini membedakan individu berdasarkan tanggung jawab terhadap tindakan maupun pekerjaannya.
Berkaitan dengan tipe kepribadian tersebut yang juga sering kita temui di dalam kelas, bahwa ada tipe anak seperti ciri-ciri tersebut, perlu kiranya kita dapat mengakomodasi kebutuhan mereka.
- C. PAR( Pembelajaran Aktif-Reflektif)
- 1. Pembelajaran
Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan guru (pengajar) dan murid (pembelajar) berinteraksi, membicarakan suatu bahan atau melakukan suatu aktivitas, guna mencapai tujuan yang dikehendaki. Dr Oemar Hamalik mengartikan pembelajaran sebagai “suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur, yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran”. Juga dikemukakan bahwa pembelajaran merupakan “upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik”
Pembelajaraan adalah proses membelajarkan sesuatu. Dalam proses membelajarkan guru bertindak sebagai fasilitator sekaligus juga motivator dan kadang kala sebagai konselor. Proses membelajarkan berarti suatu proses membuat siswa menjadi belajar. Komponen dalam proses pembelajaran di sini tidak hanya siswa sebagai objek atau subjek pebelajar, tetapi guru pun menjadi objek dan subjek pebelajar. Tidak ada istilah untuk berhenti belajar apalagi di era global, di abad informasi , di mana perubahan demikian cepat terjadi. Belajar tidak hanya bagi mereka yang masih anak-anak, tetapi orang tua pun wajib belajar. Life long education
- 2. Aktif
Proses belajar dapat dikatakan active learning dengan mengandung :
1. Komitmen (Keterlekatan pada tugas),
Berarti, materi, metode dan strategi pembelajaran bermanfaat untuk siswa(meaningful), sesuai dengan kebutuhan siswa (relevant) dan bersifat pribadi (personal)
2. Tanggung jawab (Responsibility),
Merupakan suatu proses belajar yang memberi wewenang pada siswa untuk krtitis, guru lebih banyak mendengar daripada bicara, menghormat ide-ide siswa, memberi pilihan dan memberi kesempatan pada siswa untuk memutuskan sendiri
3. Motivasi,
Motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, dengan lebih mengembangkan motivasi intrinsik siswa agar proses belajar yang ditekuninya muncul berdasarkan, minat dan inisiatif sendiri, bukan karena dorongan lingkungan atau orang lain.
Motivasi belajar siswa akan meningkat karena ditunjang oleh pendekatan belajar yang dilakukan guru lebih dipusatkan kepada siswa (Student centred approach), guru tidak hanya menyuapi atau menuangkan dalam ember, tetapi menghidupkan api yang menerangi sekelilingnya, dan bersikap positif kepada siswa.
Active learning bisa dibangun oleh seorang guru yang gembira,tekun dan setia pada tugasnya, bertanggung jawab, motivator yang bijak, berpikir positif, terbuka pada ide baru dan saran dari siswa atau orang tuanya/masyarakat, tiap hari energinya untuk siswa supaya belajar kreatif, selalu
Mengutip gagasan Paul D. Dierich, Dr Oemar Hamalik mengemukakan delapan kelompok perbuatan belajar aktif, yakni:
- Kegiatan visual
- Kegiatan lisan
- Kegiatan mendengarkan
- Kegiatan menulis
- Kegiatan menggambar
- Kegiatan metric
- Kegiatan mental
- Kegiatan emosional
- 3. Reflektif
Ada tiga fungsi yang diperankan oleh otak dan membuatnya berbeda dengan yang lain: (1) fungsi emosi, (2) fungsi rasional – eksploratif atau fungsi kognisi, dan (3) fungsi refleksi
Pembelajaran adalah sebuah proses untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam perjalanan mencapai tujuan terkadang mengalami berbagai peristiwa yang ada kalanya peristiwa atau kejadian itu bersifat mendukung pada proses pencapaian tujuan, namun ada kalanya peristiwa atau kejadian itu menjadi kendala bagi proses pencapaian tujuan. Di sinilah perlunya refleksi, terutama bagi guru. Mengapa proses pembelajaran tidak seperti yang diidealkan, atau ,mengapa hasil belajar siswa tidak seperti yang diharapkan. Seorang guru yang bijaksana tidak begitu saja memvonis siswa atau pihak lain sebegai biang keladi dari kegagalan dalam proses belajar mengajar yang ia pandu. Guru yang bijak selalu bertanya dan mencari jawaban atas masalah yang ia alami. Selanjutnya guru yang bijak akan menindaklanjuti dalam bentuk aksi nyata. Di sinilah pentingnya refleksi. Teknik refleksi bisa langsung kita minta dari siswa dengan cara menuliskan hal-hal yang menjadi keluhan dan masalah mereka selama dalam proses pembelajaran. Pembelajaran reflektif (reflective learning) memberikan kesempatan kepada peserta untuk melakukan analisis atas pengalaman individual yang dialami dan memfasilitasi pembelajaran dari pengalaman tersebut. Pembelajaran reflektif juga mendorong peserta didik untuk berpikir kreatif.
- Penutup
Untuk memberikan layanan kepada setiap anak didik/ pebelajar dan demi perbaikan mutu proses dan hasil pembelajaran –di samping juga untuk menyelaraskan dan menyerasikan proses pembelajaran dengan pandangan baru dan temuan baru di pelbagai bidang_ falsafah dan metodologi pembelajaran silih berganti dipertimbangkan,digunakan atau diterapkan dalam proses pembelajaran dan pengajaran. PAR (Pembelajaran Aktif –Reflektif) merupakan salah satu model pembelajaran yang merupakan aplikasi dari PARTINEM-KU ( Pembelajaran Aktif Reflektif Terencana Inovatif Nasionalis Efektif Menyenangkan Kreatif dan Universal). Walaupun sedikit semoga tetap bermanfaat bagi pembaca dan pecinta pendidikan.




