Membaca di SMA

Pendahuluan

Membaca merupakan keterampilan yang bersifat reseptif. Pernyataan ini sudah berlangsung sangat lama, yaitu ketika para ahli “sepakat” membagi keterampilan berbahasa menjadi empat, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis; dengan pembagian menyimak dan membaca sebagai keterampilan yang bersifat reseptif, sedangkan berbicara dan menulis sebagai keterampilan yang bersifat produktif. Sejalan dengan pandangan tersebut, keterampilan menyimak dan membaca selalu diartikan sebagai keterampilan yang ditakdirkan untuk menerima saja. Menyimak diartikan sebagai kegiatan menerima informasi dari sesuatu yang didengarkan, sedangkan membaca diartikan sebagai kegiatan menerima informasi dari bacaan.

Kalau hanya menggunakan paradigma tersebut, lalu bagaimana kita harus mengartikan aktivitas membaca puisi dan membaca berita? Benarkah aktivitas tersebut semata-mata merupakan aktivitas “menerima”? Atau, kalau aktivitas tersebut dikategorikan sebagai “membacakan”, harus kita masukkan ke dalam keterampilan membaca atau berbicara?

Persoalan itu masih dapat didiskusikan. Namun, dalam tulisan ini saya akan melihat aktivitas membaca sebagai aktivitas berkomunikasi, baik membaca dalam pengertian reseptif maupun membaca dalam pengertian membacakan. Sebagai proses komunikasi, empat unsur utama yang terdiri atas pengirim pesan, penerima pesan, pesan itu sendiri, dan sarana yang digunakan menjadi penting untuk kita perhatikan, lebih penting dari sekadar menggolongkan keterampilan berbahasa menjadi keterampilan yang bersifat reseptif maupun produktif.

Kurikulum yang baru, KTSP, sudah memperlihatkan berbagai aspek dalam membaca. Kebaruan dan keanekaragaman tersebut haruslah kita sikapi secara tepat, termasuk dalam pembelajarannya.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Membaca

Standar kompotensi dan kompetensi dasar menulis di SMA (kelas umum) tercatat seagai berikut.
Kelas  X

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

  1. Memahami berbagai teks bacaan  nonsastra dengan berbagai teknik membaca
1.   Menemukan ide pokok berbagai teks  nonsastra dengan teknik membaca cepat  (250 kata/menit)

2.   Mengidentifikasi ide teks  nonsastra dari berbagai sumber melalui teknik membaca ekstensif

  1. Memahami  wacana sastra melalui kegiatan membaca puisi dan  cerpen
1.   Membacakan puisi  dengan lafal, nada, tekanan, dan intonasi yang tepat

2.   Menganalisis keterkaitan unsur intrinsik suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari

  1. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memindai
1.   Merangkum seluruh isi informasi teks buku ke dalam beberapa kalimat dengan  membaca memindai

2.   Merangkum seluruh isi informasi dari suatu tabel dan atau grafik ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai

  1. Memahami sastra Melayu klasik 
1.   Mengidentifikasi karakteristik dan   struktur         unsur intrinsik sastra Melayu klasik

2.   Menemukan  nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik

Kelas XI

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

  1. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca nyaring

1.    Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif

2.    Membacakan berita dengan intonasi, lafal, dan sikap membaca yang baik

  1. Memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/novel terjemahan
1     Menemukan unsur-unsur intrinsik  dan ekstrinsik hikayat

2     Menganalisis unsur-unsur intrinsik  dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan

  1. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca cepat dan membaca intensif
  2. Mengungkapkan pokok-pokok isi teks dengan  membaca cepat 300 kata per menit
  3. Membedakan fakta dan opini  pada editorial
dengan membaca intensif
  1. Memahami buku biografi, novel dan hikayat
  2. Mengungkapkan hal-hal  yang menarik dan  dapat diteladani dari tokoh
  3. Membandingkan unsur intrinsik  dan ekstrinsik novel Indonesia/ terjemahan dengan hikayat

Kelas XII

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

  1. Memahami artikel dan teks pidato
    1. Menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel melalui kegiatan membaca intensif
    2. Membaca nyaring teks pidato dengan intonasi yang tepat
    3. Memahami  wacana sastra puisi dan cerpen
    4. Membacakan puisi karya sendiri dengan lafal, intonasi, penghayatan dan ekspresi yang sesuai
    5. Menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen
    6. Memahami ragam wacana tulis  melalui kegiatan membaca cepat dan membaca  intensif
    7. Menemukan ide pokok suatu teks dengan  membaca cepat 300-350 kata per menit
    8. Menentukan kalimat kesimpulan (ide pokok)  dari berbagai pola paragraf induksi, deduksi dengan membaca intensif

Dari paparan tersebut terlihat bahwa di SMA (kelas umum) keterampilan membaca yang harus disampaikan mencakupi (1) membaca cepat, (2) membaca ekstensif, (3) membaca memindai, (4) membaca teknik (berita dan teks pidato), (5) apresiasi sastra, (6) membandingkan karya sastra, dan (7) membaca puisi.

Adapun Standar kompotensi dan kompetensi dasar menulis di SMA (kelas bahasa) tercatat seagai berikut.

Kelas XI

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

  1. Memahami cerita pendek, novel, dan hikayat
1.   Menganalisis nilai-nilai  yang terdapat dalam cerita pendek

2.   Mengidentifikasi pelaku, peristiwa, dan latar dalam novel

3.   Mendeskripsikan relevansi hikayat dengan kehidupan sekarang

  1. Memahami hikayat, novel, dan cerpen
1.   Membandingkan  penggalan hikayat dengan penggalan novel

2.   Membandingkan naskah hikayat dengan cerpen

Kelas XII

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

  1. Memahami cerpen dan puisi melalui kegiatan membaca kritis
1.    Menganalisis cerpen yang dianggap penting pada setiap periode untuk menemukan  standar budaya yang dianut masyarakat dalam periode tersebut

2.    Menganalisis puisi yang dianggap penting pada setiap periode untuk menemukan  standar budaya yang dianut masyarakat

  1. Memahami tema, plot , tokoh, perwatakan, dan pembabakan, serta perilaku berbahasa dalam teks drama
1.    Menentukan tema, plot , tokoh, perwatakan, dan pembabakan, serta perilaku berbahasa

2.    Menilai tema, plot, tokoh, perwatakan, dan pembabakan, serta perilaku berbahasa teks dalam drama tradisional atau terjemahan

Standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut memperlihatkan bahwa di kelas bahasa keterampilan membaca difokuskan pada membaca pemahaman, khususnya apresiasi sastra (puisi, prosa, dan drama).

Apresiasi Sastra

Apresiasi menyangkut penikmatan dan pemahaman terhadap karya sastra. Penikmatan dan pemahaman itu dilakukan untuk menumbuhkan penghargaan terhadap karya sastra.

Pemahaman terhadap karya sastra dapat dilakukan secara intrinsik dan ekstrinsik. Pemahaman secara intrinsik berarti pemahaman melalui unsur intrinsik karya sastra: untuk puisi meliputi tema, tipografi, nada dan suasana, dan gaya bahasa; untuk prosa meliputi tema, penokohan, alur, setting, sudut pandang, dan gaya bahasanya; dan untuk drama meliputi tema, penokohan, konfik, alur, setting, dialog, dan konflik. Pemahaman secara ekstrinsik berarti pemahana terhadap karya sastra melalui sesuatu yang ada di luar  karya sastra tersebut, seperti biografi pengarang,  seni lain, ilmu lain, atau kondisi sosial masyarakatnya.

Baik pemahaman secara intrinsik maupun secara ekstrinsik menuntut adanya pertemuan langsung antara apresiator dan karya sastra. Pengalaman langsung bergaul dengan karya sastra itulah yang akan menumbuhkan rasa senang atau bahkan sampai menghargai karya sastra.

Dengan pemahaman itu pula kita bisa membandingkan karya sastra, baik secara sinkronik maupun secara diakronik. Dalam perbandingan karya sastra yang perlu kita tonjolkan adalah pertautan antara karya sastra yang dibandingkan dan perkembangan yang terlihat.

Kecepatan Efektif Membaca (KEM)

Kecepatan Efektif Membaca (KEM) merupakan perpaduan dari kemampuan motorik (gerakan mata) atau kemampuan visual dengan kemampuan kognitif seseorang dalam membaca. KEM meeupakan perpaduan antara kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan. Dengan demikian KEM merupakan cermin kemampuan membaca yang sesungguhnya. Para ahli di Amerika mengolongkan rentang KEM ideal sebagai berikut.

SD          140 kpm

SMP       140 – 175 kpm

SMA        175 – 245 kpm

PT          245 – 280 kpm

Rumus KEM:

Jml kata              Jml benar

X

Waktu baca        Skor ideal

Catatan: Kpm = kata per menit

Secara umum, tingkat penguasaan membaca dapat digolongkan sebagai berikut. Kurang dari 70% tergolong rendah, antara 70 dan 80 % tergolong sedang, dan di atas 80% tergolong tinggi.

Membaca Puisi

Ada tiga koponen daalm pembacaan puisi, yaitu penghayatan, vokal, dan penampilan. Ketiga komponen ini jugalah yang menjadi kriteria dalam penilaian pembacaan puisi. Meskipun ketiga komponen tersebut sama-sama penting, namun komponen penghayatan boleh dikatakan yang paling penting. Jika, misalnya, dalam lomba baca puisi ada peserta yang jumlah keseluruhan nilainya sama, maka peserta yang komponen penghayatannya lebih tinggilah yang akan menjadi pemenangnya. Ketiga komponen tersebut dibicarakan berikut ini.

  1. Penghayatan

Menghayati berarti memahami secara penuh isi puisi. Dengan pemahaman itulah kita sebagai pembaca puisi dapat menyatukan jiwa puisi dengan jiwa kita sendiri. Pemahaman terhadap puisi yang dikategorikan dalam penghayatan ini tidak sekadar memahami makna kata-kata atau baris-baris puisi, tetapi sampai pada pemahaman atas makna yang terkandung dalam puisi dan suasana puisi itu sendiri.

Pemahaman akan isi puisi harus dilakukan oleh pembaca puisi. Membaca puisi adalah upaya membantu pendengar atau penonton untuk dapat memahami isi puisi tersebut. Oleh karena itu, sebelum kita membantu pendengar memahami isi puisi, terlebih dahulu kita harus  memahaminya. Paling  tidak  dalam  langkah ini  kita harus mampu menangkap apa makna yang  terkandung dalam puisi itu, apa makna simbol-simbiol yang ada dalam puisi itu,  dan bagaimana suasananya.

Penghayatan dalam seni baca puisi setidaknya tercermin dalam pemenggalan, nada dan intonasi, dan ekspresi.

Membaca puisi haruslah dipahami sebagai upaya menyampaikan sesuatu milik penyair kepada pendengar atau penonton. Tanpa mengetahui “sesuatu” itu, bagaimana mungkin kita dapat menyampaikannya kepada pendengar atau penonton. Pemahaman terhadap puisi pada dasarnya merupakan pemahaman terhadap sesuatu tersebut, yaitu segala hal yang ada dalam puisi yang akan disampaikan oleh penyair kepada pembacanya.

  1. Vokal

Setidaknya ada empat hal yang menjadi perhatian utama dalam masalah vokal ini, yaitu kejelasan ucapan, jeda, ketahanan, dan kelancaran.

Setiap kata yang ada dalam puisi harus dapat didengar oleh pendengar atau penonton secara jelas. Jelas tidaknya ucapan ini menjadi kriteria utama vokal seorang pembaca puisi. Masalah warna suara seseorang tidak berhubungan langsung dengan kejelasan ucapan. Warna suara berat, tinggi, besar, atau kecil; semuanya dapat menghasilkan suara yang jelas bila pemiliknya rajin mengadakan pelatihan.

Selain kejelasan ucapan, kriteria vokal yang lain adalah masalah jeda. Pembaca puisi harus dapat mengatur jeda secara tepat. Di mana seorang pembaca boleh mengambil nafas dan berapa lama, menjadi faktor penting yang harus diperhatikan pembaca puisi supaya apa yang dibacakan sampai kepada pendengar atau  penonton.

Jeda tersebut berbeda-beda waktunya. Ada kalanya waktu untuk mengambil nafas hanya sedikit, misalnya pada baris “ketika langit bersih /kembali menampakkan bimasakti yang jauh”; ada pula waktunya cukup panjang.

Selain itu, masalah ketahanan dan kelancaran juga menjadi kriteria vokal yang baik. Yang dimaksud dengan ketahanan adalah kekuatan vokal dari awal pembacaan sampai akhir pembacaan puisi. Terutama untuk puisi panjang, ketahanan sangat dibutuhkan. Jangan sampai pada akhir pembacaan puisi kekuatan vokal sudah berkurang.

Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kebenaran mengucapkan baris-baris puisi dari awal sampai akhir. Hal ini berkaitan dengan hafal tidaknya pembaca puisi pada puisi yang dibaca. Untuk pembaca puisi yang melakukan pembacaan secara spontan, biasanya pengucapan kata-kata atau baris-baris puisi tidak lancar.

  1. Penampilan

Masalah penampilan dalam membaca puisi menyangkut persoalan-persoalan teknik muncul, blocking dan pemanfaatan setting, gerakan tubuh, cara berpakaian.

Teknik muncul  adalah cara yang ditempuh  oleh pembaca puisi dalam memperlihatkan diri untuk kali pertamanya. Kesan baik dan mantap harus ditampilkan dalam kemunculan pertama. Hal ini penting karena keberhasilan dalam kemunculan pertama akan berpengaruh besar pada keberhasilan pembacaan selanjutnya.

Secara teoretis, pada saat pertama kita muncul di panggung, sebelum membaca puisi, kita harus menguasai panggung terlebih dahulu. Menguasai panggung dapat diartikan sebagai penguasaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Langkah ini didasari pada pemikiran bahwa membaca puisi pada hakikatnya merupakan dialog antara pembaca puisi dan pendengar atau penonton. Dalam sebuah dialog, kesiapan kedua belah pihak harus dimunculkan secara bersama-sama. Dialog tidak akan berjalan dengan baik manakala salah satu pihak tidak siap.

Dalam pembacaan puisi juga demikian. Jika pendengar atau penonton belum siap mendengarkan, maka kalau kita memaksakan mulai membaca puisi, suasana dialogis  tidak akan tercipta. Oleh karena itu, begitu kita berdiri di panggung, sebelum puisi kita baca, kita terlebih dahulu harus menyatukan “hati” kita dengan hati pembaca atau penonton.

Hal kedua yang harus diperhatikan kaitannya dengan penampilan adalah blocking. Blocking mencakupi masalah bagaimana kita memosisikan tubuh kita pada saat membaca puisi. Apakah kita harus menghadap penonton, membelakangi, atau campuran keduanya, apakah kita harus duduk, berdiri, atau campuran keduanya, apakah kita harus berjalan-jalan, berdiri di satu tempat saja, atau gabungan keduanya; itu semua merupakan persoalan blocking. Pendek kata, bagaimana kita memanfaatkan ruang yang ada untuk memosisikan tubuh kita, itulah persoalan blocking.

Secara umum ada dua jenis blocking, yaitu blocking yang bersifat statis dan blocking yang bersifat dinamis. Blocking statis berarti blocking yang tidak menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah. Sebaliknya, blocking dinamis berarti blocking yang menghendaki posisi pembaca bergerak ke berbagai arah.

Blocking ditentukan oleh puisi yang kita baca. Ada puisi yang menghendaki blocking secara statis, ada pula yang menghendaki blocking dinamis. Puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohamad, misalnya, tentu akan sesuai kita baca dengan model blocking statis. Sebaliknya, puisi “Aku” karya Chairil Anwar, tentu akan sesuai jika kita baca dengan model blocking dinamis.

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun,

karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah

pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti

yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta,

nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semua disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok

pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara,

ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,

karena ia tak berani lagi

Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.

Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.

Lewat remang dan kunang-kunang,

kau lupakan wajahku, kulupakan wajahmu.

Pembelajaran membaca puisi tersebut dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut.

  1. Membuat baris pembacaan

Langkah pertama pembelajaran membaca puisi adalah mengajak anak untuk bersama-sama mengubah baris-baris puisi menjadi baris pembacaan.

ASMARADANA

Ia dengar kepak sayap kelelawar

dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning.

Ia dengar resah kuda serta langkah pedati

ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh.

Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu.

Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.

Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara,

ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,

karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.

Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.

Lewat remang dan kunang-kunang,

kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu.

  1. Membuat Pemenggalan Pembacaan

Inti pembacaan puisi sebenarnya ada pada pemenggalan. Pemenggalan sendiri merupakan inti penghayatan. Oleh karena itu, setelah kita mengubah baris-baris puisi menjadi baris-baris pembacaan, langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah menentukan pemenggalan dengan menunjukkan tempat-tempat yang tepat untuk memenggal dan mengambil nafas. Sebagai bahan pelatihan, berikut dieberikan contoh langkah-langkah pembacaan puisi “Asmaradana” karya Goenawan Mohammad.

ASMARADANA

Ia dengar kepak sayap kelelawar /

dan guyur sisa hujan dari daun / karena angin pada kemuning //

Ia dengar resah kuda / serta langkah pedati /

ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh //

Tapi di antara mereka berdua / tidak ada yang berkata-kata //

Lalu ia ucapkan perpisahan itu / kematian itu//

Ia melihat peta / nasib / perjalanan / dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan //

Lalu / ia tahu perempuan itu tak akan menangis //

Sebab bila esok pagi / pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara /

ia tak akan mencatat yang telah lewat / dan yang akan tiba /

karena ia tak berani lagi //

Anjasmara  adikku / tinggallah seperti dulu //

Bulan pun lamban dalam angin / abai daam waktu //

Lewat remang dan kunang-kunang /

kaulupakan wajahku / kulupakan wajahmu //

  1. Memberi Jiwa pada Puisi yang Dibaca

Langkah terakhir dalam berlatih membaca puisi adalah menjiwai puisi tersebut. Setelah kita dapat membaca dengan ucapan dan tempo yang benar, penghayatan penuh harus kita lakukan. Dengan demikian, jiwa kita harus menyatu dengan jiwa puisi tersebut. Hal ini akan menjadikan suasana puisi akan muncul dalam pembacaan dan gerakan anggota tubuh, serta ekspresi akan mengikutinya. Gerakan-gerakan anggota tubuh dalam pembacaan puisi yang benar memang tidak kita siapkan, karena akan muncul dengan sendirinya sebagai akibat penghayatan kita terhadap puisi. Dengan demikian kita tidak akan overacting.

Memberikan jiwa pada puisi selain akan menghidupkan suasana dalam pembacaan puisi juga akan memberikan kewibawaan pada pembaca puisi. Pembaca puisi yang menjiwai secara benar puisi yang dibacanya akan mampu memukau atau paling tidak membuat pendengar atau penonton tidak berpaling dari pembacaan puisi yang dimaksud.

Dasar pemberian jiwa dalam pembacaan puisi adalah suasana dan makna puisi. Dalam membaca puisi “Doa Seorang pensiunan Hakim pada Jaman Penjajahan”, misalnya, suasana khusuk harus mendasari penjiwaan pembacaan puisi tersebut. Kekhusukan dalam berdoa yang disertai penyesalan atas kesalahan yang telah diperbuat harus tampak dalam pembacaan puisi tersebut.

Penutup

Pembelajaran membaca, selain menggunakan pendekatan komunikatif, juga harus menggunakan pendekatan apresiatif. Hal ini terutama berkaitan dengan membaca sastra, selain bersifat reseptif, juga ada yang bersifat produktif.

About these ads

Tentang sman1purworejo

Blog Sekolah
Tulisan ini dipublikasikan di Karya Ilmiah dan tag . Tandai permalink.

5 Balasan ke Membaca di SMA

  1. rojai82 berkata:

    makasih infonya.

  2. a'ak budi berkata:

    salam kenal buat ibu guru

  3. Ika Riesta berkata:

    Ass Ibu, aku mau minta tolong, aku siswa SMA kelas 1,

    disuruh bawakan materi tentang Merangkum seluruh informasi dari suatu tabel atau grafik kedalam beberapa kalimat,

    tolong kirimkan bahan sekaligus materinya ke email ku ….
    ika_agoes@yahoo.co.id……thank you b4..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s